teks

Allah SWT menciptakan bumi ini begitu Indah, mari kita nikmati dan menjadi Khalifah yang Amanah, Amin

Jumat, 28 Maret 2014

STAN TAK BERTABUR BUNGA

INILAH DIDIKAN KAMI..JANGAN HANYA MELIHAT SISI ENAKNYA SAJA !!!

STAN TAK BERTABUR BUNGA. PULANGLAH! ( Elam Sanurihim Ayatuna)
Penerimaan tahun ini yang menembus rekor sejarah, yang biasanya hanya menerima 2000an mahasiswa, bahkan kurang, kini menerima sekitar 5000 mahasiswa dengan komposisi 2/3-nya atau sekitar 3400an diisi oleh Program D-I dan sisanya, sekitar 1600an diisi Program D-III, memberikan rasa bahagia para adik-adik maba, namun tak sedikit juga yang menyimpan kecewa.

Entahlah, bagi saya bahagia atau kecewa itu soal pilihan. Karena tak ada yang bisa memaksa hati seseorang untuk menjadi bahagia atau kecewa.

Saya juga tak menjanjikan jalannya kemudian akan mudah melalui tulisan tersebut, karena saya orang yang tak berhak menjanjikan apapun. Namun, biarlah saya bertutur sedikit soal kampus ini.

STAN Tak Bertabur Bunga, Pulanglah!

“Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Pande penempa cita baja” –Penggalan lagu Mars STAN

Layaknya baja yang ditempa, maka bukan harum wewangi yang tercium, tapi bau busuk menyengat yang akan tercium. Bukan sejuknya taman bunga yang dirasakan, tapi panasnya api ribuan celcius. Karena yang dibicarakan disini tak hanya besi, namun baja kawan! Baja yang pedih!

Daripada kau harus merasakan semua kepedihan itu, pulanglah sesegara mungkin. Secepat yang kau bisa. Karena di sini, setiap hari adalah hari-hari perjuangan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka semenjak pertama kau pun akan merasakan aturan ketat, dari mulai baju kuliah yang ditentukan, rambut yang dirapikan layaknya anak sekolah, hingga aturan lain yang begitu menyesakkan. Tak sebebas kuliah di tempat lain. Tapi, itulah ajarannya, soal disiplin yang akan membantumu nanti dalam banyak hal.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau mungkin akan pergi jauh meninggalkan tempatmu sekarang. Dari jogja ke Makasar, dari Pati ke Palembang, atau bahkan dari Jayapura ke Jakarta. Jauh sekali, dan jangan tanya kenapa kau harus lakukan perjalanan jauh itu demi hanya ilmu yang sedikit itu, perantauan yang bodoh itu. Tapi, mungkin kisah Imam Sa’id bin Al Mussyayyib yang melakukan perjalanan berhari-hari dengan berjalan kaki ke negara lain demi menimba ilmu sebuah hadist juga akan membuatmu menjustifikasi betapa bodohnya imam itu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ada saja yang diterima bukan atas pilihannya. Ada juga yang berpikir jika yang dicetaknya dari kampus ini hanya kacung-kacung keuangan Negara. Prajurit-prajurit pelaksana berpangkat rendah. Memang seperti itu, dan harus diakui, bahkan Menteri Keuangan sendiri pun tak pernah sekalipun asalnya dari kampus Ali Wardhana, Frans Seda, atau BDK lainnya. Tapi, ada Hitler yang mengajarkan kita, ditinggalkan oleh cita-cita pilihan senimannya, menjadi tentara di dinas militer. Tentara yang bukan berpangkat tinggi malah, rendah dan tidak sesuai keinginan bukan merupakan sesuatu yang harus disesali. Pilihan takdir membawanya menjadi tokoh yang dikenang bermasa-masa.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka uang saku yang kau terima akan paling kecil diantara Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya. Tak cukup bagimu mungkin untuk menyambung hidup. Tapi, bukankah di penjuru Indonesia lainnya ada orang-orang yang bahkan hidup dengan uang yang lebih kecil daripada yang kau terima. Mereka mau berdesak-desakan menerima suap pemerintah yang tak seberapa itu. Dan mungkinkah orangtuamu begitu kikir hanya menyuruhmu hidup dengan uang saku itu. Putuskan saja hubunganmu dengannya jika begitu.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan merasakan bagaimana sebagian dosen dengan seenaknya mengganti jadwal kuliah atau pihak sekretariat yang bisa menyuruh apa pun kepadamu sesukanya atas nama Drop Out. Tapi, bukankah seperti itu menjadi bawahan, ditindas atasan adalah hal yang harus kau pelajari sebagai bagian dari kehidupan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan diberikan waktu jeda setelah lulus. Diberikan waktu liburan, berbulan-bulan, atau mungkin lebih dari satu tahun. Liburan yang kau rindukan semasa sekolah dahulu. Jeda yang bahkan kata seorang senior, didapatkannya hingga dua tahun. Tapi, itulah liburan yang dimintakan syukur atasnya, bukan depresi yang berlebihan.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka ia dua tahun ini pun lulusannya tetap dites CPNS. Sama seperti yang lainnya. Tapi, bukankah begitu aturan seharusnya, setiap orang tanpa terkecuali yang ingin menjadi CPNS harus ikut tes. Ada prinsip taat azas yang dijalani.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka kau akan mengenal kota-kota bernama Waingapu, Atambua, Entikon, Batulicin, dan bahkan kepulauan Natuna. Kau bukan anak Jenderal yang bisa memilih dimana nantinya kau akan berpijak. Tapi, dari sana kau mengetahui Indonesia begitu luas dan kaya.

Karena STAN tak bertabur bunga, maka hal yang bisa kau anggap pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Ketika hari ini sebuah peraturan berbunyi A, besok bisa saja berbunyi E. Ketika hari ini ada PMK 148/2012 laknat, maka besok bisa saja peraturan itu berubah. Tapi, bukankah hidup itu juga terdiri atas berbagai ketidakpastian. Kalau kau tak bisa menerima ketidakpastian itu, jangan hidup.

Akhirnya, karena STAN tak bertabur bunga, pulanglah! Pulang ke tempatmu, ke pangkuan ibumu. Jangan kau habiskan hidupmu sia-sia tak berarti di sini.